Tahun 2014 merupakan tahun politik bagi Indonesia dimana
pada tahun ini ada pertistiwa besar politik yakni Pemilihan Umum (Pemilu) yang
terdiri dari Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden. Jika dipelajari lebih
dalam, pemilu ini sudah tentu memiliki dampak terhadap perekonomian khususnya bagi pertumbuhan ekonomi nasional. Pemilu ini dapat berdampak positif dan negatif. Di satu sisi pemilu ini bisa mendorong perekonomian,namun di sisi lain justru mengerem laju perekonomian nasional.
dalam, pemilu ini sudah tentu memiliki dampak terhadap perekonomian khususnya bagi pertumbuhan ekonomi nasional. Pemilu ini dapat berdampak positif dan negatif. Di satu sisi pemilu ini bisa mendorong perekonomian,namun di sisi lain justru mengerem laju perekonomian nasional.
Dampak
Negatif
Adanya
pergantian pimpinan di legislative dan eksekutif ini tidak menutup kemungkinan mengganti
arah kebijakan termasuk kebijakan di bidang ekonomi. Apalagi ada pepatah
mengatakan bahwa biasanya di Negara berkembang seperti Indonesia ganti pejabat
makan ganti pula kebijakannya. Berubahnya kebijakan pemerintah diperkirakan
akan mengurangi investasi dari para penanam modal asing. Para pemodal asing
yang khawatir akan asetnya yang diperkirakan akan mengalami fluktuatif di Indonesia pasti memilih untuk tidak
berinvestasi atau mencabut asset –asetnya dari Tanah Air
untuk sementara waktu sampai keadaan politik di Indonesia sudah stabil. Hal ini
menyebabkan capital flight di
Indonesia yang akan sangat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi nasional khusunya
di sektor riil dan pasar modal. Hal ini
terbukti dari respons Investor pasar modal yang negatif terhadap hasil pemilu
legislatif. Indeks Harga Saham Gabungan pada awal perdagangan Kamis
10/4/2014 pagi melorot lebih dari 100 poin ke kisaran level 4.800. Hingga sekitar pukul 09.15
WIB, IHSG anjlok 116,19 poin atau 2,36 persen ke posisi 4.805,21. Tercatat 167
saham turun dan hanya 46 saham yang naik. Adapun nilai transaksi mencapai Rp
2,17 triliun. Terkait
IHSG, indeks bisa responsnya bagus di awal perdagangan. Namun bukan mustahil
IHSG bisa turun karena market menunggu terbentuknya koalisi antarpartai.
Investor akan kembali berpikir logis dan rasional serta fokus atas data ekonomi
dan kinerja emiten yang diperkirakan melambat seiring perlambatan PDB tahun ini. Lantas bagaimana solusi untuk
mengatasi permasalahan tersebut? Pemerintahan Indonesia saat ini harus mampu
menjaga stabilitas ekonominya dan pemerintahan yang baru nanti sebaiknya mempertahankan
kebijakan- kebijaka ekonomi jangka panjang misalnya Rencana Pembangunan Jangka
Panjang (RPJP).
Dampak
Positif
Pemilu tidak hanya berdampak negative namun juga
memiliki dampak positif terhadap perekonomian Indonesia. Jumat 4/4/14 lalu Gubernur
Bank Indonesia, Darmin Nasution mengatakan “Pengaruh
dari aktivitas pemilu pada pertumbuhan PDB itu positif. Akan ada tambahan
pertumbuhan dari pola normalnya tapi tidak banyak, sekitar 0,2 persen,”. Dari
pernyataan beliau sudah jelas bahwa perekonomian Indonesia tumbuh akibat adanya
pemilu. Jika kita analisis, pertumbuhan ekonomi tersebut berasal dari
perputaran uang dari kegiatan pemilu yang terdiri 2 variabel ekonomi yakni
Konsumsi dan Pengeluaran Pemerintah. Dari segi konsumsi ada pembuatan
atribut untuk kampanye Partai Politik, pembayaran iklan untuk para calon
legislative dan calon presiden, dan lain sebagainya sementara dari segi
pengeluaran pemerintah sudah jelas bertambah dengan penyediaan sarana-
prasarana pemilu seperti cetak surat suara,pengadaan bilik suara, biaya distribusi
dan lain-lain.
Kesimpulannya ,Perekonomian Indonesia
2014 ini tergantung pada dampak pemilu yang lebih kuat entah itu negative atau positif. Semoga
dampak positifnya yang lebih kuat agar perekonomian Indonesia tetap stabil
bahkan berkembang.
(sumber : www.BankIndonesia.go.id , riset MNC securitieas, kompasiana.com )

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.