Pages

Rabu, 16 September 2015

Apa Kabar Rupiah ?

Aku cinta rupiah..walau dollar dimana-mana..

Seperti kita ketahui bersama bahwa nilai tukar Rupiah beberapa pekan terakhir ini terus mengalami penurunan. Hari ini, Kamis 17 September 2015 Rupiah bahkan sudah mencapai Rp.14.445 per US$. Dalam teori ekonomi dasar, pelemahan nilai tukar Rupiah terjadi karena banyaknya jumlah Rupiah dan sedikit atau terbatasnya jumlah Dollar. Ada beberapa faktor  yang menyebabkan pelemahan nilai tukar Rupiah ini. Ada faktor internal maupun eksternal. Jika dilihat dari internal, pengusaha terutama pengusaha eksportir turut andil dalam pelemahan nilai rupiah. Pengusaha selalu memiliki motto profit oriented. Oleh karena itu segala hal yang dirasa menguntungkan akan dilakukan oleh para pengusaha. Kita ketahui bersama bahwa pelemahan nilai tukar Rupiah merupakan angin segar untuk para eksportir, karena keuntungan yang mereka dapatkan lebih besar dari biasanya.Pengusaha yang "cerdas" tidak akan menyimpan uang hasil ekspornya yang berupa Dollar di Bank karena hal tersebut akan mengakibatkan jumlah Dollar di Bank banyak yang Rupiah menguat sehingga hasil penjualan mereka pun berkurang Namun demikian, rupanya faktor eksternal juga sangat berpengaruh terhadap pelemahan nilai tukar Rupiah. Beberapa waktu terakhir ini memang perekonomian dunia pun sedang lesu, ini ditandai dengan adanya devaluasi yang terjadi di Tiongkok, Kisruh Politik di Malysia, dan yang menurut saya memiliki pengaruh yang cukup besar adalah rencana penaikkan suku bunga The Fed yang dapat menyebabkan aliran dana ivestasi keluar atau dalam ekonomi biasa disebut Capital Out Flow. Adapun dampak yang langsung diterima adalah dengan Pola Konsumsi masyarakat Indonesia yang sudah terbiasa dengan barang-barang kebutuhan yang murah harganya, sementara harga barang dalam negeri cenderung mahal maka pemerintah mau tidak mau melakukan impor barang yang lebih murah harganya. Hal ini membuat produsen dalam negeri semakin tercekik. Intinya adalah pelemahan nilai tukar Rupiah ini menyebabkan In-efisiensi perekonomian Indonesia. Semoga pemerintah serta pemangku kebijakan lain yang bersangkutan dapat segera menyelesaikan masalah ini. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Powered By Blogger